Kebahagiaan Hakiki Adalah Trophy Sebuah Proses Ketaatan
Foto: Goog Housekeeping
Gambar ilustrasi
Author: Penulis Lepas
Oleh Yayat Rohayati*
Bahagia atau kebahagiaan merupakan hak setiap orang. Kebahagiaan bersifat universal, tidak mengenal warna kulit, status sosial ataupun tingkat pendidikan.
Jadi, pada dasarnya semua manusia mendambakan kebahagiaan dalam hidup.
Menurut KBBI, kebahagiaan memiliki makna suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin.
Berdasar pada pengertian di atas, kebahagiaan yang dimaksud adalah kebahagiaan yang menciptakan ketentraman lahir dan batin.
Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, manusia harus mengetahui terlebih dahulu apa tujuan hidupnya. Dengan begitu ia akan memiliki standar tetap yang kelak membawa pada kebahagiaan hakiki.
Jangan sampai kebahagiaan itu berpatokan pada materi. Seperti merasa bahagia kalau memiliki banyak uang, prestasi yang bagus, rumah mewah, kendaraan berjejer dan lainnya.
Menjadikan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan terjadi dalam sistem yang memisahkan antara agama dan kehidupan yakni sekularisme kapitalisme.
Dalam sistem ini menampik aturan dari sang pembuat hukum, Allah SWT. Padahal hanya Dia yang tahu hakikat manusia seperti apa, maka dibuatlah aturan yang tertuang dalam Al Qur'an dan Sunnah.
Mereka lebih mengagungkan aturan buatan manusia dalam kehidupan, sehingga standar kebahagiaan dikembalikan pada individu manusia.
Misalnya, seseorang merasa bahagia ketika memiliki rumah dengan jalan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Atau bahagia memiliki anak bekerja di suatu perusahaan dengan risywah (suap).
Bisa disimpulkan bahwa kebahagiaan menurut pandangan sekularisme kapitalisme adalah tercapainya kepuasan lahiriah. Sebatas kebahagiaan duniawi dan lebih berharap pada penilaian manusia.
Oleh karena itu watak dari kebahagiaan menurut mereka memiliki empat ciri, diantaranya:
1. Tidak mempedulikan halal dan haram
Adanya pemisahan antara agama dan kehidupan menjadikan mereka tak lagi peduli halal haram dalam kehidupan. Ketika diri merasa puas disitu terdapat kebahagiaan. Contoh: merasa puas dan dan enjoy ketika berzina atau meminum minuman beralkohol.
2. Tidak mempunyai empati
Orang yang tak mempedulikan halal dan haram, akan jauh dari rasa empati. Dalam berbuat tak peduli apakah menginjak kehormatan yang lain,
mengambil hak orang lain atau bahkan ada hati yang tergores dan air mata yang menetes.
3. Tidak memerlukan usaha
Karena merujuk pada ciri pertama dan kedua, maka guna meraih kebahagiaan dalam sistem ini tidak memerlukan effort . Kalau dia mau, bisa bahkan berani menantang apa yang dikatakan Allah, ia bisa.
4. Bermuara pada kesempitan hidup
Fakta menunjukkan hari ini banyak sekali orang kaya, yang ketika ia menginginkan sesuatu dengan mudah didapatkan, tapi berujung pada depresi bahkan bunuh diri. Sebab dari ketiga ciri di atas semuanya tidak sesuai dengan hukum syara.
Menjadi alarm kerusakan peradaban apabila standar kebahagiaan diserahkan kepada individu. Karena ketiadaan standar perbuatan yang jelas, manusia akan berbuat semaunya.
Padahal telah gamblang Allah SWT sampaikan:
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (TQS. An-nahl : 97).
Dari ayat tersebut Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik (kebahagiaan) kepada manusia yang telah mengerjakan apa yang menjadi syarat mendapatkan kebahagiaan yaitu mengerjakan kebajikan.
Jadi, kebahagiaan menurut pandangan Islam tidak akan datang tiba-tiba. Semua akan didapat setelah mendapati amal sholeh. Kebahagiaan adalah hasil akhir atau trophy sebuah ketaatan.
Kebahagiaan hakiki tak mengenal merk, atau deretan uang, karena kebahagiaan hakiki hanya mengharap ridhoNya. Kebahagiaan hakiki tak perlu mencari kesana kemari, karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki akan diturunkan oleh sang pemilik hati Allah SWT.
Wallahu'alam.
*) Penulis adalah pegiat literasi tinggal di Kawarang, Jawa Barat
Editor: Ibnu