[Surat Pembaca] Tragedi Kanjuruhan Antara Fanatisme dan Represif
Capture: @youtube
Author: Muhamad Basuki
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tragedi Kanjuruhan merupakan sejarah buruk sepakbola Indonesia, dalam kejadian itu banyak sekali korban jiwa. Kejadian itu diawali saat suporter arema lari ke lapangan seusai pertandingan selesai. Mereka memprotes para pemain dan tim offisialnya karena kekalahan yang dialami arema 2-3 dari persebaya pada sabtu 1/10/2022. Menurut wakil gubernur Jawa Timur emil dardak menyebut korban meninggal 131 orang, data tersebut merujuk pada BPBD profinsi Jawa Timur dimana per 10.30 WIB angkanya berubah menjadi 174 orang ucap emil pada program breaking news kompas TV minggu 2/10/2022.
Tragedi di stadion kanjuruhan merupakan potret buruk fanatisme golongan yang sudah tertanam dalam diri masyarakat, yang semua ini lahir dari sistem Demokrasi, sehingga kejadian seperti ini terus berulang-ulang tanpa ada solusi yang baik dari PSSI maupun negara.
Justru semakin hari fanatisme golongan semakin menjadi salah satunya demi club sepakbola mereka rela berkorban harta dan jiwa, kecintaan mereka terhadap club sepakbola melebihi cinta mereka kepada Allah SWT dan Rasulnya sungguh sangat ironis sekali.
Disisi lain tindakan yang dilakukan aparat dalam menyelesaikan permasalahan ini sungguh tidak tepat, untuk menghalau para aremania aparat menggunakan gas air mata sehingga membuat suporter panik, mereka berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
Namun kondisi penonton yang banyak dan pintu stadion yang masih tertutup membuat mereka berdesak-desakan, saling injak dan mereka kekurangan oksigen, Sehingga banyak korban meninggal maupun luka-luka.
Kejadian seperti ini tidak akan terjadi apabila dengan penanganan yang tepat, fanatisme golonganpun jangan dijadikan acuan dalam hal apapun karena akan menghasilkan sebuah perpecahan. Islam mengajarkan kebersamaan dan persaudaraan hanya islam yang mampu memberikan solusi dari setiap permasalahan yang ada sehingga tidak muncul lagi kasus yang serupa.
Pengirim:
Indun Tri Parmini
Ibu Rumah Tangga
Babakan Leuwi Bandung Dayeuhkolot
Editor: Ibnu