Apa Motif di Balik Kurikulum Anti Radikalisme?
Foto: Ilustrasi/liputan6.com
Author: Muhamad Basuki
Oleh Elis Rohayati*
Ribuan siswa di Bandung propinsi Jawa Barat mendapat pembekalan nilai-nilai wawasan kebangsaan oleh gubernur Jabar Ridwan Kamil, dihadari siswa SMU, SMK dan SLB. (www.pasjabar.com (4/8/2022)).
Acara ini di gagas oleh gus miftah, di kemas secara menarik dengan target dalam acara ini adalah anak muda yang menurutnya rentan asupan informasi dari media sosial dan lingkungannya yg berpotensi melemahkan wawasan kebangsaan.
Menurut gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, para pemimpin siswa yang hadir bisa meneruskan materi kepada siswa yang lainnya maupun lingkungannya, inilah yang di cita citakan dan menanamkan para siswa lebih mencintai bangsa dan negaranya , dan sekaligus di tanamkan rasa nasionalisme , patriotisme dengan memberikan keragaman bangsa.
Sungguh miris, di satu sisi para pelajar di doktrin dengan radikalisme, di sisi lain mereka melakuan tauran. Tauran itu bukanlah buah dari narasi radikal yang kerap di tabuh, namun buah dari sistem sekuler kapitalis. Maka dengan adanya kurikulum anti radikalisme menunjukan adanya motif untuk mendeskreditkan islam, shg para siswa jd takut terhadap islam.
Sesungguhnya para pelajar tidak membutuhkan deradikalisme, yang mereka butuhkan hanyalah sistem pendidikan yang berbasis aqidah Islamiyah yang mampu mencetak mereka menjadi generasi cemerlang, manusia yang cerdas cerdas dan bertakwa.
Untuk itu kita butuh kepemimpinan islam di mana ketika islam di terapakan para pelajar akan terarah , tidak kaya sekarang ketika islam tidak di terapkan kondisi para pelajar sangat perihatin.
Yuk kita berjuang untuk menegakan kalimat Allah di muka bumi ini, dengan di terapkannya syariat islam dalam bingkai daulah islamiyah yang mengikuti manhaj kenabian. Aamiin Allohuma Aamiin
*)Penulis adalah anggota Komunitas Pena Bandung tinggal di Kabupaten Bandung
Editor: Ibnu