Kebenaran Hakiki Hanya Bersumber dari Islam
Author: Ibnu
Oleh: Yayat Rohayati
Kebenaran merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Kebenaran menjadi pedoman dalam menentukan benar dan salah, baik dan buruk.
Namun, ketika berbicara tentang kebenaran dalam sistem kehidupan saat ini, kita perlu memahami bahwa sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang, bahkan oleh masyarakat pada umumnya, belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa demikian?
Jawabannya dipaparkan oleh Ustazah Ummu Husain dalam kajian bulanan Majelis Taklim di Masjid Al-Muttaqin, Bendasari Karawang, Jawa Barat
Dalam tausiyahnya, Ustazah menyampaikan bahwa saat ini sesuatu kerap dianggap benar karena banyak orang melakukannya atau karena telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Misalnya, banyak perempuan Muslim berjoget-joget di media sosial atau masih banyak perempuan Muslim yang tidak menutup aurat sesuai ketentuan syariat. Fenomena tersebut seolah-olah menjadi hal yang biasa dan tidak lagi dipersoalkan.
Padahal, sebagai seorang muslim kita perlu memahami apakah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan itu sesuai dengan ketentuan Allah Swt atau malah melanggarnya? Sebab, banyak orang yang melakukan suatu perbuatan hanya didasari oleh mengharap validasi manusia, materi, dan lainnya.
Dalam Islam, kebenaran adalah jika Allah ridha. Maka standar kebenaran harus merujuk pada wahyu Allah Swt., yakni Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar mengikuti apa yang dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.
Lantas, bagaimana cara mengetahui sesuatu itu diridhai Allah Swt.? Salah satunya adalah dengan menuntut ilmu agama agar memahami ketentuan syariat beserta dalil yang mendasarinya.
Maka dari itu Allah SWT mewajibkan umatNya untuk menuntut ilmu. Sebagaimana firmanNya:
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, " Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Mujadalah:11)
Rosulullah Saw. juga bersabda:
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap umat muslim" (HR. Ibnu Majah).
Dengan ilmu, seorang muslim dapat memahami dan membedakan kebenaran yang sesuai dengan syariatNya. Dan menjadikan kebenaran IsIam sebagai landasan dalam berkehidupan.
Sehingga untuk mewujudkannya diperlukan beberapa pondasi yang kuat, diantaranya;
Pertama, ketakwaan individu. Sebab, individu yang bertakwa akan meyakini bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya pembuat hukum. Sehingga mendorong seorang muslim yang senantiasa menaati perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan lahirlah individu yang teguh memegang prinsip kebenaran, sekalipun harus berhadapan dengan kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan syariat.
Kedua, masyarakat yang peduli. Masyarakat yang peduli yakni masyarakat yang tidak cukup menjaga keshalehan individu saja, akan tetapi peduli terhadap keshalehan seluruh anggota masyarakat. Mereka akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Dengan begitu, perilaku yang bertentangan dengan nilai Islam tidak dibiarkan begitu saja hanya karena dianggap lumrah.
Ketiga, peran negara. Dalam menerapkan aturan yang menjamin keadilan dan melindungi masyarakat diperlukan peran negara. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa penguasa memiliki amanah untuk menjalankan pemerintahan sesuai ketentuan syariat. Aturan yang diterapkan semata-mata ditujukan agar yang menjadi tujuan perbuatan setiap individu dan masyarakat adalah hanya untuk menggapai ridho Allah, bukan yang lain.
Allah Swt, berfirman:
"Dan sungguh ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya...(TQS. Al-An'am: 153).
Oleh karena itu setiap melakukan perbuatan jangan lupa untuk menimbangnya dengan syariatNya. Sebab, tujuan hidup seorang muslim adalah hidup dalam keridhaanNya, bukan sekadar mengikuti arus zaman.
Wallahua'lam bishshawab.
Editor: Ibnu